
Bahkan dengan penampilan yang menonjol dibandingkan celana orang lain maka hal itu sedikit banyak menjadi kebanggaan tersendiri serta identitas sosial kaum "salafi" dibanding yang lain, tidak dipungkiri bahkan di beberapa komunitas salafi saat awal jumpa orang baru maka yang dilirik pertama kali adalah bagian celana untuk memastikan sudah sesuai "sunnah" atau tidak.
Namun uniknya menaikkan celana sampai berlebihan di atas kewajaran yaitu sampai setengah betis itu oleh Syaikh Ibn Utsaimin (Ulama' besar Salafi Wahabi saudi) sebagai pakaian syuhroh (agar dilihat orang dan sombong), dalam kitab Al Kanzu At Tsamin fi Sua'laat Ibn Sunaid Li Ibn Utsaimin halaman 163 disebutkan bahwa ibn Tsunaid (penulis kitab) suatu ketika bertanya pada gurunya Syaikh Ibn Utsaimin:
هل يجوز أن نقول لمن لبس ثوبًا قصيرًا إلى أنصاف ساقيه: إنه ثوب شهرة؟
الجواب: نعم، يجوز ذلك باعتبار حال الناس اليوم.
"Bolehkah kita katakan orang yang memakai pakaian pendek sampai di atas tengah betisnya bahwa ia memakai baju syuhroh (yang terlarang)?"
Jawabannya:"Ya boleh dikatakan begitu berdasarkan kondisi masyarakat sekarang"
Dari kalam beliau ini setidaknya dapat dipahami bahwa fenomena "agar beda" sebagai komunitas "sunnah" dengan pakai baju cingkrang juga ada di Saudi sana dan beliau tidak setuju dengan itu.
Wallahua'lam
Oleh: Ust Muhammad Salim Kholili