Aset, Aset, Aset

Ada PC Ansor yang mau mengundang grup Shalawāt kondang. Tarifnya Rp 150.000.000. Belum termasuk biaya hotel, sound system, panggung dll. Sebelum mengisi PKD, kami terlibat obrolan dengan panitia dan pengurus. Diskusi soal tema sensitif: FULUS.

"Wah. Banyak uang nih?" saya menyergah.

"Nggih mboten banyak uang. Ini kami masih mencari dana ke masyarakat dan para tokoh."

"Ora usah, mas. Gebyar cuma 3 jam saja. Kemudian selesai. Dampak memang ada, tapi ya gitu-gitu saja. Ngabisin duwit. Itu bisa-bisa habis Rp 250 juta jika sekalian biaya sewa panggung, dll "

"Nggih sekitar itu."

"Kalau memang niat syiar shalawatan, dana segitu bisa dipakai buat membina grup-grup Shalawāt anak-anak muda di berbagai musholla maupun masjid. Dibelikan rebana dan alat musik, juga mikirin seragam, bisyaroh tutor, dll. Lebih nyebar tuh. Target jangka panjang manfaatnya."

"Inggih."

"....dana ratusan juta itu, bayangkan, bisa dipakai membeli tanah buat calon kantor Ansor. Atau kalau sudah ada tanah, duwit jumbo itu bisa buat mengawali pembangunan."

"Inggih."

" Sik, belum selesai. Dana segitu buat beli 1 mobil layanan umat sudah dapat. Pakai melayani warga. Nahdliyyin itu banyak yang miskin dan butuh bantuan. Jangan cuma ditariki iuran melulu tapi kita nggak ngasih feedback. Kasihlah mereka pelayanan prima. Jangan cuma ngurusi orang mati dengan kirim doa+pahala saja, yang HIDUP ini lho kita openi."

"Lha nggih niku. Apalagi di sini kami juga butuh biaya buat membangun musholla."

"Lha ya itu. Kudu mikir aset. Beli tanah, atau mobil berlogo NU. Gagah itu. Aset, aset, dan aset. Ini yang kudu dipikirkan. Kita itu organisasi, bukan paguyuban, kudu punya kantor dan aset. Efektivitas penggunaan dana. Efisienkan. Seremonial itu penting, tapi jangan terlalu sering. Apalagi dananya mungut dari masyarakat. Kasihan mereka itu. Atsar-nya gebyar dan berlangsung 3-4 jam saja."

"Lha nggih niku..."

"Dana ratusan juta itu juga bisa dipakai pemberdayaan ekonomi. Kasih tambahan modal lah buat guru-guru TPQ dan guru ngaji di sini. Pasti mereka seneng banget. Atau kuliahkan para Banser itu. Juga kasih anak-anak yatim Beasiswa mondok. Banyak kok program lain yang lebih manfaat, tepat sasaran, dan berdampak jangka panjang."

"Lha nggih..."

"Lha ojo nggah nggih mawon. Njenengan setuju jalan pikiran saya, monggo. Tidak juga monggo. Fair saja. Saya juga tidak memaksa, dan njenengan juga tidak berhak memaksa saya. Ibarat orangtua, mungkin selama ini yang kita pikirkan cuma RESEPSI MEGAH bagi anak anak kita, tapi lupa mengajari mereka SURVIVAL setelah menikah. Akhirnya cuma bisa NODONG FULUS ke ortu. Juga nggak punya aset. Sebab duwite cuma habis buat pesta, seremoni, festival, dll. Hahahaha."

Oleh: Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan dan terhormat..
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.